“Dinamika Keterlibatan Meksiko Dalam NAFTA dan Kemunculan Kelompok Perlawanan Zapatista : Analisis Teori Hetrogenitas Huntington”

Berawal dari runtuhnya ideologi komunis di dunia, liberalisme baru atau yang lebih dikenal dengan neo-liberalisme mulai memimpin nilai-nilai univesalisme dunia. Dunia diarahkan menuju kepada nilai-nilai universal yaitu nilai-nilai neo-liberal. Berbagai proses dijalankan yang berujung pada penyebaran penggunaan nilai liberal oleh seluruh dunia, atau biasa disebut dengan kosmopolitan neo-liberal. Salah satu proses dari penyebaran nilai-nilai liberal terlihat dari Structural Adjusment Program (SAP) yang menjadi kebijakan yang ditujukkan untuk melakukan konstruksi kebijakan-kebijakan suatu negara yang mengarah pada penggunaan nilai-nilai liberal. Sejalan dengan hal tersebut, maka muncul berbagai instrumen internasional yang “memfasilitasi” pelaksanaan SAP di sebuah negara. Salah satu instrumen tersebut adalah NAFTA.

NAFTA merupakan sebuah bentuk integrasi regional Amerika Utara yang memfasilitasi adanya SAP di negara-negara yang tergabung dalam NAFTA. Sebagai salah satu bentuk integrasi regional, NAFTA memiliki sejarah panjang dalam proses pembentukannya. Berawal dari pembentukan Caribbean Basin Initiative oleh Amerika Serikat yang membuat negara-negara Karibia dapat mengakses pasar Amerika Serikat. Lalu tahap berikutnya adalah ketika AS dan Kanada melakukan kerjasama perdagangan bebas pada tahun 1987. Hingga pada akhinya 5 tahun setelah itu, Meksiko bergabung dalam sebuah integrasi regional yang dinamakan NAFTA.[1]

Pada tanggal 1 Januari 1994, Meksiko menjadi anggota tetap dari NAFTA bersama Amerika Serikat dan Kanada yang merupakan negara yang memiliki perekonomian dan tingkat kesejahteraan yang tinggi. Sejak saat itu berbagai kebijakan dalam negeri Meksiko mulai diubah untuk disesuaikan dengan kesepakatan NAFTA. Kebijakan yang dilakukan oleh Meksiko dalam upaya menyesuaikan diri dengan kesepakatan NAFTA adalah dengan melakukan perdagangan bebas, melakukan liberalisasi pasar, melakukan privatisasi terhadap berbagai perusahaan milik negara, dan melakukan deregulasi terhadap berbagai peraturan industri.[2] Kebijakan-kebijakan tersebut merupakan contoh bentuk penyamaan nilai-nilai neo-liberal di Meksiko.

Dalam konteks tersebut, kebijakan liberalisasi pertanian menjadi kebijakan yang memperlihatkan tingginya pergeseran dari nilai tradisional ke nilai neo-liberal. Merupakan sebuah tradisi bagi negara-negara berkembang termasuk Meksiko bahwa pertanian merupakan aspek yang sangat penting bagi kelangsungan hidup sebuah negara. Hal tersebut menjadikan aktivitas pertanian sangat ditentukan oleh negara. Negara melakukan intervensi yang sangat besar terhadap aktivitas ekonomi sektor pertanian. Begitupun juga di Meksiko, sejak tahun 1930 kebijakan pertanian sepenuhnya dipegang oleh pemerintah Meksiko. Berbagai kebijakan pertanian baik yang menyangkut penentuan harga, penyediaan stok bahan pangan, pemberian subsidi makanan bagi masyarakat miskin, serta berbagai kebijakan yang terkait dengan pemberian intensif bagi para petani sangat ditentukan oleh pemerintah Meksiko. Namun, sejak permulaan dari NAFTA, terjadi berbagai pergeseran kebijakan pemerintah Meksiko, walaupun tren perubahan sudah dapat dirasakan beberapa sebelum keanggotan Meksiko dalam NAFTA. Namun, ketika Meksiko tergabung dalam NAFTA, berbagai kebijakan pertanian mulai disesuaikan dengan kesepakatan NAFTA. Bentuk dari liberalisasi pertanian Meksiko dapat terlihat ketika beberapa produk pertanian yang merupakan kebutuhan dasar dari rakyat Meksiko mulai di-liberalisasi. Sejak Januari 1994, gandum, benih wijen, dan lain sebagainya, yang berasal dari Canada dan AS dapat dengan bebas masuk ke Meksiko.[3] Bebas disini dalam artian bahwa tidak ada berbagai hambatan perdagangan seperti tarif impor yang sebelumnya berlaku untuk barang-barang impor. Lebih dari itu, perdagangan bebas juga terjadi pada produk pertanian lain seperti kacang, jagung, kapas, kedelai, dan suflower. Pada tahun 1998, semua jenis kedelai dari Amerika Serikat dan Canada masuk dengan bebas ke Meksiko.[4] Untuk mendukung proses perdagangan bebas, maka pada tahun tersebut pula, NAFTA mengeluarkan sebuah kesepakatan untuk melakukan TRQ (Tariff Rate Quotas) sebagai mekanisme transisi untuk mengeliminasi berbagai peraturan perdangan yang menyangkut kuota barang menuju perdagangan yang benar-benar bebas tanpa adanya kuota terhadap berbagai produk baik pertanian hingga produk industri. TRQ diterapkan tidak hanya pada barang-barang pertanian tetapi juga terhadap semua produk dari tiga negara anggota NAFTA. Ketika kesepakan tersebut dikeluarkan, diharapkan pada tahun tahun 2007, tidak ada lagi ada hambatan terhadap masuknya berbagai barang antar negara anggota NAFTA. Tetapi kenyataanya hal tersebut sudah dapat direalisasikan pada tahun 2003.[5]

Liberalisasi sektor pertanian juga dapat dilihat dari adanya penurunan bantuan pemerintah Meksiko terhadap para petani kecil Meksiko. Contohnya adalah liberalisasi sektor pertanian terhadap produk jagung. Sejak Meksiko bergabung dengan NAFTA, pemerintah harus menurunkan jumlah subsidi terhadap para petani jagung, penurunan tarif dan kuota impor dan penghapusan bantuan pemerintah dalam pemasaran dan pendistribusian produk tani lokal.[6]

Pemerintah Meksiko juga melakukan privatisasi sebagai bentuk penyesuaian kebijakan dengan kesepakatan yang terbentuk dalam NAFTA. Untuk merealisasikan kesepakatan tersebut dalam konteks kebijakan dalam negeri Meksiko, pemerintah Meksiko mengubah Pasal 23 Undang-Undang Dasar Meksiko yang tadinya melarang adanya kepemilikan penuh pihak asing terhadap berbagai perusahaan-perusahaan pemerintah. Perubahan dari undang-undang tersebut dimana pihak asing diperbolehkan untuk memiliki kepemilikan hingga 100% terhadap perusahaan-perusahaan Meksiko, membuat fenomena privatisasi menjadi sesuatu yang marak.[7] Salah satu perusahaan yang di privatisasi adalah perusahaan telekomunikasi miliki negara, Telmex. Walaupun proses penjualan saham Telmex bermula sejak tahun 1990 ketika Carlos Salinas de Gortari yang merupakan Presiden Meksiko saat itu, menjual Telmex kepada Southwestern Bell dan France Telcom, namun ketika NAFTA disepakati, kepemilikan Telmex, secara penuh dikuasai oleh pihak asing. [8]

Bentuk lain dari adanya liberalisasi di Meksiko adalah liberalisasi arus modal. Sejak Meksiko bergabung dengan NAFTA, pemerintahan melakukan liberalisasi arus modal. Dalam hal ini, pemerintah Meksiko melakukan liberalisasi arus modal dalam bentuk sistem devisa mengambang. Berbagai modal asing dapat dengan mudah untuk masuk ke Meksiko. Sejak bergabungnya Meksiko dalam NAFTA, arus berbagi investasi dalam bentuk portofolio jangka pendek meningkat.[9]

Hingga pada akhirnya, 10 tahun sejak bergabungnya Meksiko dalam NAFTA, berbagai hambatan dalam perdagangan hampir seluruhnya dihapuskan. Barang, modal, dan jasa dapat berpindah antar tiga negara yang tergabung dalam NAFTA dengan sangat cepat tanpa adanya hambatan. Berbagai kebijakan ekonomi juga dilakukan dalam upaya untuk mendukung adanya percepatan perdagangan bebas dan perubahan sistem ekonomi ke arah sistem ekonomi liberal. Hasil dari hal tersebut juga mengarah pada terbentuknya single market di Amerika Utara. [10] Hal tersebut telah menunjukkan bahwa NAFTA telah berhasil membawa negara maju maupun negara berkembang untuk bersatu dalam payung neo-liberal yang termanifestasi dalam bentuk perdagangan bebas. Walaupun secara kultural dan historis, Meksiko tidak memiliki keterkaitan dengan berbagai nilai-nilai liberal, akan tetapi, kondisi dunia pasca perang dingin telah mampu membawa Meksiko untuk berubah ke arah sistem ekonomi yang lebih liberal. Hal tersebut telah menunjukkan bahwa perdagangan bebas di Amerika Utara telah melahirkan sebuah homogenitas di Amerika Utara dalam bentuk dimana terlihat bahwa Meksiko mulai berubah menjadi negara liberal sesuai dengan sistem kenegaraan yang selama ini telah dianut oleh Amerika Serikat dan Kanada.

Perlawanan Zapatista

…I will take off my ski mask when Mexican society takes off its own mask, the one it uses to over up the real Mexico…. And once they [Mexicans] have seen the real Mexico—as we have seen it—theywill be more determined to change it.[11]

— Subcomandante Marcos

Sejarah Meksiko menunjukkan bahwa masyarakat Indian yang merupakan penduduk asli Meksiko selalu mendapat perlakuan yang tidak adil. Masyarakat Indian mengalami kolonialisasi dari bangsa Spanyol tahun 1500. Ketika Meksiko memperoleh kemerdekaan pada era 1980-an, masyarakat Indian kembali menjadi subordinasi dalam masyarakat. Orang-orang Indian berada pada level ekonomi terendah dalam strata ekonomi masyarakat Meksiko. Perlakuan tidak adil termanifestasi dalam bentuk eksploitasi indigenous labor, degradasi budaya Indian, pembatasan aspirasi politik dan eksklusi dari program-program sosial pemerintah. Pasca krisis yang dialami pada tahun 1982, Meksiko memasuki era baru adalam pengaturan perekonomiannya. Meksiko memasuki era liberalisasi yang sangat cepat, ditandai dengan restrukturisasi ekonomi untuk berintegrasi ke dalam pasar global. Bentuknya adalah implementasi dari Washington Consensus, yaitu privatisasi, pelemahan peran Negara dalam perekonomian dan pembukaan pasar terhadap dunia luar. Masuknya Meksiko sebagai pelaku mekanisme perdagangan bebas NAFTA pada tahun 1994, yang menciptakan psasr bebas diantara Kanada, Amerika Serikat dan Meksiko, semakin megokohkan posisi Meksiko sebagai negara yang liberal secara ekonomi. Pemerintah Meksiko bertujuan untuk menjadikan meksiko sebagai negara dunia pertama.

Pada era baru Meksiko pasca krisis seperti yang telah dipaparkan diatas, masyarakat Indian masih tetap termarjinalisasi. Pemerintah Meksiko nampaknya melupakan kenyataan bahwa masyarakatnya tidak homogen. Dengan masuknya Meksiko kedalam mekanisme NAFTA hanya menguntungkan sekelompok massyarakat saja dan merugikan sekelompok masyarakat yang lain. Masyarakat Indian semakin termarjinalisasi dari perekonomian Meksiko. “Kue ekonomi” tidak dibagi secara adil.

Bukti paling nyata dari ketidakadilan terhadap masyarakat Indian adalah apa yang dialami oeh masyarakat Meksiko bagian Selatan di negara bagian Chiapas. Masyarakat di sana tidak mendapat akses terhadap hak dasar manusia, sekolah, layanan kesehatan, listrik dan air bersih. Mereka menyadari bahwa NAFTA justru akan semakin melemahkan posisi mereka jika mereka tidak melakukan perlawanan. Pada tahun 1994 masyarakat Indian Chiapas membentuk The Zapatista Army of National Liberation (EZLN). Sebenarnya perlawanan telah dimulai pada tahun 1980-an, tetapi belum terangkat ke ranah publik.

Alasan utama bagi kelompok Zapatista untuk melakukan pemberontakan adalah menuntut tanah, keadilan, reformasi demokrasi dan mengakhiri penguasaan Meksiko oleh satu partai yang opresif. [12] Secara khusus perlawanan yang Zapatista lakukan adalah untuk menentang neo-liberalisme dalam bentuk NAFTA yang memberikan dampak buruk terhadap petani kecil.

Metode berjuang kelompok Zapatista

Menarik untuk dibahas secara khusus bagaimana kelompok Zapatista yang dipimpin oleh Subcomandante Marcos berupaya mewujudkan cita-citanya, yaitu menciptakan keadilan dan kesetaraan bagi penduduk asli Meksiko. Walaupun pada dasarnya kelompok Zapatista ini didasari oleh pemikiran-pemikiran kiri, namun dalam perjuangannya ia tidak menampilkan citranya sebagai sebuah kelompok komunis. Ia juga memainkan pola berjuang yang memperhatikan keberadaan media (media savvy). Ketika berupaya melakukan pemberontakan, kelompok Zapatista berhasil menampilkan citra sebagai sebuah kelompok tradisional indigenous melawan tentara negara yang bersenjatakan peralatan perang modern. Padahal, sebenarnya, kelompok Zapatista sendiri menggunakan senjata modern, hanya saja pada medan pertempuran yang disorot oleh media, ia menggunakan peralatan yang tradisional. Dengan strategi seperti inilah, perlawanan Zapatista berhasil mendapatkan perhatian dan simpati rakyat Meksiko dan media internasional. Mereka menjadi simpati karena kelompok Zapatista merepresentasikan diri mereka yang asli, yang berbeda dengan negara lain.

Namun demikian, perjuangan kelompok Zapatista akhirnya gagal untuk terus mendapatkan dukungan nyata dari rakyatnya. Hal ini disebabkan oleh metode berjuangnya sendiri yang memanfaatkan popular culture. Budaya pop, seperti kaus dan merchandise lainnya, yang semula mempopularkan mereka di mata rakyat, kini dianggap tidak “zaman” lagi. Dengan kata lain, kelompok Zapatista dihancurkan oleh media yang semula mendukung mereka untuk mendapatkan perhatian.


[1] Jeffry A. Frieden, Global Capitalism: Its Fall and Rise in the 20 Century, (New York : 2005, Norton) p 384

[2] Antonio Yunez-Naude, “Lessons from NAFTA: The Case of Meksiko’s Agricultural Sector, Final Report to the World Bank (Revised version, December, 2002) p 8

[3] Ibid, p 8

[4] Ibid, p 8

[5] Ibid, p 10

[6] M. Ramadhan Adi, Globalisasi : Skenario Mutakhir Kapitalisme, (Jakarta : Al Azhar Press, 2005, hal 76

[7] Ibid, hal 78

[8] Ibid, hal 76

[9] Daniel Laderman, Lesson from NAFTA for Latin American and Caribbean Countries : A Summary of Research Findings, (New York : The World Bank, 2003) p 126

[10] Jeffry A. Frieden, Op cit, p 388

[11] Medea Benjamin, “Interview with Subcomandante Marcos,” in First World, Ha Ha Ha!: The Zapatista Challenge, ed. Elaine Katzenberger (San Francisco: City Lights, 1995), hlm. 70.

[12] M. Clint McCowan, “Imagining the Zapatistas: Rebellion, Representation and Popular Culture” dalam jurnal International Third World Studies Journal and Review, Volume XIV, 2003, hlm. 1

Advertisement

4 Responses to ““Dinamika Keterlibatan Meksiko Dalam NAFTA dan Kemunculan Kelompok Perlawanan Zapatista : Analisis Teori Hetrogenitas Huntington””

  1. jadi kita ga usah bikin kaos mad? padahal seru lho.. bisa dipake terus lagi..

  2. mungkin inilah yang disebut dengan ironi perjuangan…tapi minimal model perjuangan zapatista telah menjadi sebuah cerita sukses membangun sebuah solidaritas perjuangan tingkat internasional,walaupun memang pada akhirnya mereka juga “dimakan” oleh media yang sebenarnya turut membantu membangun solidaritas tersebut..ironis memang..

  3. saya sangat kagumj dengan sosok sub comandante marcos….lebih dari seorang pejuang revolusi ia juga seorang pujangga yang romantis, sentimentil sekaligus jenaka

  4. Soe Drops-Drips Says:

    hmm, dari mana itu bisa ada kesimpulan begitu?
    bukannya peperangan sejatinya ada di dlm media itu sendiri?
    sebuah agenda perlawanan antara dongeng vs citra?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.